<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Rumah Qur&#039;an Ash-Shalihin - GRATIS Jakarta KalibataRumah Qur&#039;an Ash-Shalihin - GRATIS Jakarta Kalibata &#187; admin</title>
	<atom:link href="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/author/admin/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>https://www.rumahquran-ashshalihin.com</link>
	<description>Jadikan Keluarga &#38; Lingkungan Kita Dekat dengan Al Qur&#039;an</description>
	<lastBuildDate>Wed, 13 May 2026 00:54:59 +0000</lastBuildDate>
	<language>en-US</language>
		<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
		<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>https://wordpress.org/?v=3.8.41</generator>
	<item>
		<title>Janji Allah Lebih Besar daripada Ketakutan Kita</title>
		<link>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/janji-allah-lebih-besar-daripada-ketakutan-kita/</link>
		<comments>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/janji-allah-lebih-besar-daripada-ketakutan-kita/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 12 May 2026 07:23:08 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.rumahquran-ashshalihin.com/?p=3451</guid>
		<description><![CDATA[Pesan islami dari ayat Al-Qur&#8217;an Surah QS. Al-Baqarah berdasarkan tafsir Ibnu Katsir adalah: Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan agar mereka enggan bersedekah dan terdorong melakukan kebakhilan maupun perbuatan maksiat. Sebaliknya, Allah menjanjikan ampunan, keberkahan, dan rezeki yang luas bagi orang yang taat dan gemar berinfak di jalan-Nya. Beberapa poin pesan pentingnya: Jangan takut miskin karena [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p data-start="0" data-end="169"><a href="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-12-at-14.28.14.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3454" alt="WhatsApp Image 2026-05-12 at 14.28.14" src="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/05/WhatsApp-Image-2026-05-12-at-14.28.14.jpeg" width="1120" height="1280" /></a>Pesan islami dari ayat Al-Qur&#8217;an Surah QS. Al-Baqarah berdasarkan tafsir Ibnu Katsir adalah:</p>
<blockquote data-start="171" data-end="436">
<p data-start="173" data-end="436">Setan menakut-nakuti manusia dengan kemiskinan agar mereka enggan bersedekah dan terdorong melakukan kebakhilan maupun perbuatan maksiat. Sebaliknya, Allah menjanjikan ampunan, keberkahan, dan rezeki yang luas bagi orang yang taat dan gemar berinfak di jalan-Nya.</p>
</blockquote>
<p data-start="438" data-end="469">Beberapa poin pesan pentingnya:</p>
<ol data-start="471" data-end="1324">
<li data-section-id="1ukf2kc" data-start="471" data-end="692"><strong data-start="474" data-end="515">Jangan takut miskin karena bersedekah</strong><br data-start="515" data-end="518" /> Menurut tafsir Ibnu Katsir, bisikan setan membuat manusia khawatir hartanya berkurang jika berinfak. Padahal Allah justru menjanjikan ganti yang lebih baik dan keberkahan.</li>
<li data-section-id="ecuym1" data-start="694" data-end="892"><strong data-start="697" data-end="741">Setan mengajak kepada kekikiran dan dosa</strong><br data-start="741" data-end="744" /> “Perbuatan keji” dalam tafsir ini mencakup sifat bakhil, meninggalkan kewajiban, dan berbagai kemaksiatan yang lahir dari cinta dunia berlebihan.</li>
<li data-section-id="1w63nev" data-start="894" data-end="1117"><strong data-start="897" data-end="939">Allah memberi harapan, bukan ketakutan</strong><br data-start="939" data-end="942" /> Allah menjanjikan dua hal besar:
<ul data-start="983" data-end="1117">
<li data-section-id="14s14ih" data-start="983" data-end="1003"><strong data-start="985" data-end="1001">Ampunan dosa</strong></li>
<li data-section-id="11o4h99" data-start="1007" data-end="1117"><strong data-start="1009" data-end="1037">Karunia/rezeki yang luas</strong><br data-start="1037" data-end="1040" /> Ini menunjukkan bahwa jalan Allah membawa ketenangan dan keberkahan hidup.</li>
</ul>
</li>
<li data-section-id="1aqdsnu" data-start="1119" data-end="1324"><strong data-start="1122" data-end="1163">Mukmin harus yakin kepada janji Allah</strong><br data-start="1163" data-end="1166" /> Orang beriman dianjurkan lebih percaya pada janji Allah daripada ancaman setan, karena Allah Maha Luas karunia-Nya dan Maha Mengetahui kebutuhan hamba-Nya.</li>
</ol>
<p data-start="1326" data-end="1359">Kalimat hikmah yang bisa diambil:</p>
<blockquote data-start="1361" data-end="1468" data-is-last-node="" data-is-only-node="">
<p data-start="1363" data-end="1468" data-is-last-node="">“Jangan biarkan takut miskin menghalangi sedekah, karena janji Allah lebih benar daripada bisikan setan.”</p>
</blockquote>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/janji-allah-lebih-besar-daripada-ketakutan-kita/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Tiada Kemenangan Bagi Kedzaliman: Sebuah Refleksi Qur&#8217;ani</title>
		<link>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/tiada-kemenangan-bagi-kedzaliman-sebuah-refleksi-qurani/</link>
		<comments>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/tiada-kemenangan-bagi-kedzaliman-sebuah-refleksi-qurani/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 27 Apr 2026 14:25:57 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.rumahquran-ashshalihin.com/?p=3446</guid>
		<description><![CDATA[Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, berikut adalah poin-poin singkat mengenai pesan dari ayat tersebut: 1. Ketetapan Allah yang Mutlak Ibnu Katsir menegaskan bahwa ini adalah Sunnatullah (ketetapan Allah). Siapa pun yang berbuat zalim—baik dengan melakukan kesyirikan, mendustakan ayat-ayat Allah, maupun mendzalimi sesama manusia—maka ia tidak akan pernah mencapai kemenangan yang hakiki. 2. Definisi Kegagalan (Tidak Beruntung) [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-27-at-17.03.09.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3447" alt="WhatsApp Image 2026-04-27 at 17.03.09" src="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-27-at-17.03.09.jpeg" width="384" height="219" /></a><br />
Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, berikut adalah poin-poin singkat mengenai pesan dari ayat tersebut:</p>
<p>1. Ketetapan Allah yang Mutlak Ibnu Katsir menegaskan bahwa ini adalah Sunnatullah (ketetapan Allah). Siapa pun yang berbuat zalim—baik dengan melakukan kesyirikan, mendustakan ayat-ayat Allah, maupun mendzalimi sesama manusia—maka ia tidak akan pernah mencapai kemenangan yang hakiki.</p>
<p>2. Definisi Kegagalan (Tidak Beruntung) Kata &#8220;tidak beruntung&#8221; (la yuflihu) dalam tafsir beliau mencakup dua hal:<br />
- Di Dunia: Meskipun terlihat sukses atau berkuasa secara materi, para pendzalim tidak akan mendapatkan keberkahan dan ketenangan, serta akan berakhir dengan kehinaan.</p>
<p>- Di Akhirat: Mereka tidak akan selamat dari azab Allah dan tidak akan mendapatkan tempat di surga.</p>
<p>3. Bentuk Kezaliman Terbesar Dalam konteks QS. Al-An&#8217;am, Ibnu Katsir menekankan bahwa kezaliman terbesar adalah berbuat dusta terhadap Allah (seperti menganggap Allah punya sekutu). Orang yang berpaling dari kebenaran demi mengikuti hawa nafsu atau kekuasaan sementara adalah orang yang paling merugi.</p>
<p>4. Kepastian Keadilan Ayat ini merupakan penghiburan bagi orang-orang yang didzalimi dan peringatan keras bagi para pelaku kelaliman. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada akhirnya, kesudahan yang baik (al-’aqibah) hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa, bukan bagi mereka yang melampaui batas.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/tiada-kemenangan-bagi-kedzaliman-sebuah-refleksi-qurani/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Buah Dari Tutur Kata Yang Baik</title>
		<link>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/buah-dari-tutur-kata-yang-baik/</link>
		<comments>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/buah-dari-tutur-kata-yang-baik/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 22 Apr 2026 15:14:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.rumahquran-ashshalihin.com/?p=3439</guid>
		<description><![CDATA[Faedah dari penggalan Ayat: (وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا) (Qs. Al-Baqarah: 83) Manusia adalah makhluk sosial menurut tabiatnya sebagaimana yang sering dikatakan. Banyaknya interaksi harian mengharuskan dirinya bersinggungan dengan berbagai golongan manusia yang memiliki pemahaman dan akhlak yang berbeda-beda. Ia akan mendengar hal yang baik maupun yang buruk, dan melihat hal yang ia ingkari. Maka datanglah kaidah [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-22-at-13.55.19.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3440" alt="WhatsApp Image 2026-04-22 at 13.55.19" src="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-22-at-13.55.19.jpeg" width="801" height="444" /></a>Faedah dari penggalan Ayat:<br />
(وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا)<br />
(Qs. Al-Baqarah: 83)</p>
<p>Manusia adalah makhluk sosial menurut tabiatnya sebagaimana yang sering dikatakan. Banyaknya interaksi harian mengharuskan dirinya bersinggungan dengan berbagai golongan manusia yang memiliki pemahaman dan akhlak yang berbeda-beda. Ia akan mendengar hal yang baik maupun yang buruk, dan melihat hal yang ia ingkari. Maka datanglah kaidah ini untuk mengatur hubungan verbalnya (ucapannya).</p>
<p>Ini adalah kaidah yang penyebutannya berulang kali dalam Al-Qur&#8217;an di lebih dari satu tempat, baik secara tersurat maupun tersirat:</p>
<p>Di antara tempat yang sesuai dengan lafal ini secara hampir persis adalah firman Allah Ta&#8217;ala:<br />
{وَقُل لِّعِبَادِي يَقُولُوا الَّتِي هِيَ أَحْسَنُ}<br />
&#8220;Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: &#8216;Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik (ahsan).&#8221;&#8216; [Al-Isra: 53].</p>
<p>Dan yang senada dengan itu adalah perintah Allah -Subhanahu wa Ta&#8217;ala- untuk mendebat Ahli Kitab dengan cara yang terbaik, Allah berfirman:<br />
(وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ إِلَّا  الَّذينَ ظَلَمُوا مِنْهُمْ)<br />
&#8220;Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli Kitab, melainkan dengan cara yang paling baik, kecuali dengan orang-orang zalim di antara mereka.&#8221; [Al-Ankabut: 46].</p>
<p>Adapun yang sesuai dari segi makna, maka jumlahnya sangat banyak sebagaimana akan kami isyaratkan pada sebagiannya sesaat lagi.</p>
<p>Jadi: Perhatikanlah firman Allah Ta&#8217;ala:(وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا) &#8220;Serta ucapkanlah kata-kata yang baik kepada manusia.&#8221; (Al-Baqarah: 83). Ayat ini datang dalam konteks perintah kepada Bani Israil dengan sejumlah perintah lainnya, dan ini berada dalam surat Madaniyah—yaitu surat Al-Baqarah. Sebelumnya, Allah telah berfirman dalam surat Makkiyah—yaitu surat Al-Isra—dengan perintah yang bersifat umum: &#8220;Dan katakanlah kepada hamba-hamba-Ku: &#8216;Hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang lebih baik.&#8217;&#8221; Maka dari itu, kita sedang berhadapan dengan perintah-perintah yang bersifat pasti/tetap, dan tidak ada pengecualian darinya kecuali dalam kondisi mendebat Ahli Kitab (yang zalim) sebagaimana disebutkan sebelumnya.</p>
<p>Di antara sisi menarik dari ayat<br />
(وَقُولُوا لِلنَّاسِ حُسْنًا)<br />
&#8220;Serta ucapkanlah kata-kata yang baik (husnan) kepada manusia&#8221; adalah adanya qira&#8217;ah (bacaan) lain: &#8220;wa qulu lin nasi hasanan&#8221; dengan memfathahkan huruf Ha dan Sin.</p>
<p>Para ahli ilmu berkata:<br />
«والقول الحسن يشمل: أحسن في هيئته، وفي معناه، ففي هيئته: أن يكون باللطف، واللين، وعدم الغلظة والشدة، وفي معناه: بأن يكون خيرًا؛ لأن كل قول حسن فهو خير، وكل قول خير فهو حسن»<br />
&#8220;Perkataan yang baik &#8220;al-qoulul hasan&#8221; mencakup: baik dalam bentuknya dan baik dalam maknanya. Dalam bentuknya: yaitu dilakukan dengan lemah lembut, halus, serta tidak kasar atau keras. Sedangkan dalam maknanya: yaitu perkataan tersebut haruslah mengandung kebaikan; karena setiap perkataan yang baik adalah kebaikan, dan setiap perkataan yang mengandung kebaikan adalah hal yang baik.&#8221;</p>
<p>Sesungguhnya kita sangat membutuhkan kaidah ini, terutama karena dalam hidup kita berinteraksi dengan berbagai jenis manusia; di antara mereka ada yang muslim dan kafir, ada yang saleh dan buruk, ada yang kecil dan besar. Bahkan kita membutuhkannya dalam berinteraksi dengan orang-orang terdekat kita: orang tua, suami, istri, dan anak-anak. Kita juga membutuhkannya dalam berinteraksi dengan orang-orang di bawah tanggung jawab kita seperti pelayan dan yang semisal mereka.</p>
<p>Bentuk-Bentuk Penerapan Kaidah Ini:<br />
Dan engkau wahai orang mukmin jika menelaah Al-Qur&#8217;an, engkau akan menemukan keadaan-keadaan yang ditegaskan oleh Al-Qur&#8217;an sebagai penerapan praktis dari kaidah ini, contohnya:</p>
<p>1. Perhatikan firman Allah Ta&#8217;ala mengenai orang tua:&#8221;Dan janganlah kamu membentak mereka dan ucapkanlah kepada mereka perkataan yang mulia.&#8221; [Al-Isra: 23]. Di sini Allah melarang membentak, yang mana larangan tersebut mengandung perintah untuk melakukan kebalikannya, yaitu perintah mengucapkan perkataan yang mulia yang tidak mengandung kekerasan.</p>
<p>2. Demikian pula dalam hal menyapa peminta-minta (orang yang membutuhkan): &#8220;Dan terhadap orang yang meminta-minta, janganlah kamu menghardik(nya).&#8221; [Ad-Duha: 10]. Bahkan sebagian ulama berpendapat keumuman ayat ini mencakup setiap orang yang bertanya, baik bertanya soal harta maupun soal ilmu. Sebagian ulama berkata: &#8220;Artinya: janganlah engkau membentaknya, tetapi berikanlah sesuatu kepadanya, atau tolaklah dengan ucapan yang baik.&#8221;<br />
3. Di antara penerapan praktis kaidah Al-Qur&#8217;an ini adalah apa yang Allah puji bagi hamba-hamba Allah yang Maha Pengasih melalui firman-Nya: &#8220;Dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata (yang mengandung) keselamatan.&#8221; [Al-Furqan: 63]. Ibnu Jarir dalam menjelaskan makna ayat ini berkata: &#8220;Jika orang-orang bodoh menyapa mereka dengan ucapan yang tidak mereka sukai, mereka membalasnya dengan ucapan yang makruf dan pembicaraan yang benar.&#8221;</p>
<p>Mereka mengatakan hal itu &#8220;bukan karena lemah, melainkan karena menjaga kehormatan diri; bukan karena tidak mampu, melainkan karena menganggap besar urusan tersebut, serta demi menjaga waktu dan bersungguh-sungguh agar waktu tidak habis untuk hal-hal yang tidak layak bagi pria mulia yang sibuk dari perdebatan sia-sia dengan hal-hal yang lebih penting, lebih mulia, dan lebih tinggi.&#8221;</p>
<p>Sangat disayangkan melihat banyaknya pelanggaran terhadap kaidah ini dalam realita umat Al-Qur&#8217;an, di antaranya dalam berbagai keadaan:</p>
<p>1. Engkau melihat para misionaris Nasrani sangat antusias menerapkan kaidah ini demi menarik manusia ke agama mereka yang telah dihapus oleh Islam. Bukankah umat Islam lebih berhak menerapkan kaidah ini demi menarik makhluk kepada agama agung yang diridai Allah bagi hamba-Nya?!<br />
2. Dalam berinteraksi dengan orang tua.<br />
3. Dalam interaksi antar pasangan suami istri.<br />
4. Terhadap anak-anak.<br />
5. Terhadap pekerja dan pelayan.</p>
<p>Ayat dalam surat Al-Isra telah memperingatkan bahayanya meninggalkan penerapan kaidah ini, di mana Allah berfirman: &#8220;Sesungguhnya setan itu menimbulkan perselisihan di antara mereka.&#8221;* [Al-Isra: 53]. Maka bagi siapa saja yang diuji dengan mendengar hal yang tidak ia sukai, hendaknya ia berusaha menanggung gangguan dari orang yang ia dengar tersebut, mengucapkan hal yang baik, dan membalas kebodohan dengan kesantunan, serta membalas ucapan buruk dengan ucapan yang baik. Jika tidak demikian, maka bertindak bodoh dan membalas dengan ucapan buruk adalah hal yang bisa dilakukan oleh siapa saja (tidak butuh keistimewaan).</p>
<p>✧ Faedah dari ayat di atas ✧</p>
<p>1. Barangsiapa yang baik ucapannya, maka akan banyak orang yang mencintainya.<br />
2. Perkataan yang baik sebagaimana terdapat dalam jawaban, ia juga terdapat dalam pertanyaan, pidato, dialog, dan dalam seluruh urusanmu.<br />
3. Barangsiapa yang merenung, ia akan tahu bahwa perkataan yang baik itu menjaga jiwa, waktu, harta, dan tenaga.<br />
4. Barangsiapa yang melatih dirinya untuk berkata baik, ia akan terbiasa dan dikenal dengannya.<br />
✨️ Diambil dari kitab Qoidah Qur&#8217;aniyyah</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/buah-dari-tutur-kata-yang-baik/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Kerjakan Kebaikan Sekecil Apapun</title>
		<link>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/berdasarkan-tafsir-ibnu-katsir/</link>
		<comments>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/berdasarkan-tafsir-ibnu-katsir/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 21 Apr 2026 10:42:41 +0000</pubDate>
		<dc:creator><![CDATA[admin]]></dc:creator>
				<category><![CDATA[Artikel Islami]]></category>

		<guid isPermaLink="false">https://www.rumahquran-ashshalihin.com/?p=3416</guid>
		<description><![CDATA[Pesan Islami: Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, faedah dari Surah Al-Zalzalah ayat 7-8 dapat diringkas menjadi tiga poin utama: 1. Pembalasan yang Sempurna: Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setiap manusia akan melihat seluruh amalannya, baik yang besar maupun yang sekecil atom (dzarrah), tanpa ada yang terlewat sedikit pun. 2. Motivasi Beramal Kecil:Beliau mengutip hadits Nabi SAW tentang [&#8230;]]]></description>
				<content:encoded><![CDATA[<p><a href="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-21-at-15.57.33.jpeg"><img class="aligncenter size-full wp-image-3417" alt="WhatsApp Image 2026-04-21 at 15.57.33" src="https://www.rumahquran-ashshalihin.com/wp-content/uploads/2026/04/WhatsApp-Image-2026-04-21-at-15.57.33.jpeg" width="1040" height="600" /></a>Pesan Islami:<br />
Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, faedah dari Surah Al-Zalzalah ayat 7-8 dapat diringkas menjadi tiga poin utama:</p>
<p>1. Pembalasan yang Sempurna: Ibnu Katsir menjelaskan bahwa setiap manusia akan melihat seluruh amalannya, baik yang besar maupun yang sekecil atom (dzarrah), tanpa ada yang terlewat sedikit pun.</p>
<p>2. Motivasi Beramal Kecil:Beliau mengutip hadits Nabi SAW tentang &#8220;Lindungilah dirimu dari api neraka meskipun hanya dengan sebiji kurma.&#8221; Hal ini mengajarkan agar kita tidak meremehkan kebaikan sekecil apa pun karena ia tetap akan membuahkan pahala.</p>
<p>3. Waspada Terhadap Dosa Kecil: Sebaliknya, ayat ini menjadi peringatan keras untuk tidak menyepelekan dosa kecil. Ibnu Katsir menekankan bahwa sekumpulan dosa kecil yang dianggap remeh bisa membinasakan pelakunya jika terus dilakukan.</p>
<p>Ibnu Katsir juga menyebutkan bahwa ayat ini sangat komprehensif, sehingga Nabi SAW menyebutnya sebagai &#8220;Ayat yang mencakup segala hal namun ringkas&#8221; (Al-Ayah Al-Jami&#8217;ah Al-Fadzdzah).</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>https://www.rumahquran-ashshalihin.com/berdasarkan-tafsir-ibnu-katsir/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
		</item>
	</channel>
</rss>
