
Berdasarkan Tafsir Ibnu Katsir, berikut adalah poin-poin singkat mengenai pesan dari ayat tersebut:
1. Ketetapan Allah yang Mutlak Ibnu Katsir menegaskan bahwa ini adalah Sunnatullah (ketetapan Allah). Siapa pun yang berbuat zalim—baik dengan melakukan kesyirikan, mendustakan ayat-ayat Allah, maupun mendzalimi sesama manusia—maka ia tidak akan pernah mencapai kemenangan yang hakiki.
2. Definisi Kegagalan (Tidak Beruntung) Kata “tidak beruntung” (la yuflihu) dalam tafsir beliau mencakup dua hal:
- Di Dunia: Meskipun terlihat sukses atau berkuasa secara materi, para pendzalim tidak akan mendapatkan keberkahan dan ketenangan, serta akan berakhir dengan kehinaan.
- Di Akhirat: Mereka tidak akan selamat dari azab Allah dan tidak akan mendapatkan tempat di surga.
3. Bentuk Kezaliman Terbesar Dalam konteks QS. Al-An’am, Ibnu Katsir menekankan bahwa kezaliman terbesar adalah berbuat dusta terhadap Allah (seperti menganggap Allah punya sekutu). Orang yang berpaling dari kebenaran demi mengikuti hawa nafsu atau kekuasaan sementara adalah orang yang paling merugi.
4. Kepastian Keadilan Ayat ini merupakan penghiburan bagi orang-orang yang didzalimi dan peringatan keras bagi para pelaku kelaliman. Ibnu Katsir menjelaskan bahwa pada akhirnya, kesudahan yang baik (al-’aqibah) hanya diperuntukkan bagi orang-orang yang bertakwa, bukan bagi mereka yang melampaui batas.





